Berita

Joko Driyono Terancam 2,5 Tahun Penjara

Sidang dugaan pengaturan skor sepakbola Indonesia kembali berlanjut pada Kamis (05/07). Joko Driyono, mantan Plt. Ketua Umum PSSI, dituntut 2,5 tahun penjara oleh Ketua Majelis Hakim, H. Kartim Haeruddin, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Jaksa menyatakan Joko Driyono terbukti bersalah sesuai dakwaan alternatif kedua dari penuntut umum. Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sigit Hendradi, merujuk pada Pasal 235 jo 233 juncto 55 ayat 1 poin kesatu yang berbunyi:

“Barangsiapa dengan sengaja menghancurkan, merusakkan atau membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan barang yang digunakan untuk meyakinkan atau menjadi bukti bagi kuasa yang berhak, atau surat pembukti (akte), surat keterangan atau daftar, yang selalu atau sementara disimpan menurut perintah kekuasaan umum, atau baik yang diserahkan kepada orang pegawai, maupun kepada orang lain untuk keperluan jabatan umum dihukum penjara selama-lamanya empat tahun,” bunyi rilisan JPU seperti yang dikutip Detiksport.

Joko Driyono mengakui jika dirinya memerintahkan Mardani Mogot, yang bersama Mus Muliadi, memasuki areal yang sudah diberi garis polisi, untuk mengambil sejumlah barang. Saat itulah barang bukti tersebut dirusak atas instruksi pria yang akrab disapa Jokdri teresbut.

Jokdri mendapatkan tuntutan lebih ringan karena mengakui perbuatannya dan berlaku kooperatif selama persidangan. Namun ada juga hal yang memberatkan tuntutannya di mana pria asal Ngawi tersebut mempersulit proses penyidikan perkara lain yang sedang diinvestigasi tim Satgas Anti Mafia Bola.

Penasehat hukum Jokdri, Musofa Abidin, optimistis kliennya bisa terbebaskan dari tuntutan tersebut. Menurutnya, tidak terdapat satupun fakta di persidangan yang memenuhi unsur pasal yang digunakan JPU dalam tuntutannya.

Putusan tersebut belum bersifat final. Sidang akan dilanjutkan Kamis (11/07) untuk mendengar pembacaan nota pembelaan (pledoi) dari Jokdri dan penasehat hukumnya. Musofa Abidin, penasehat hukum Jokdri, percaya diri kliennya akan mendapatkan keringanan hukuman.

“Kami optimis, nanti saat pledoi akan kami paparkan semua argumentasi hukum kami yang akan mematahkan argumentasi JPU. Nanti akan terlihat jelas bila pasal itu kami sandingkan dengan fakta persidangan. Tunggu saja nanti nota pembelaan dari kami,” tutur Musofa.

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy