BolaSepak – AC Milan kembali menelan pil pahit. Kekalahan 1-2 dari Bologna di laga tandang dini hari tadi (28/2/2025) menjadi alarm bahaya bagi Rossoneri. Kemenangan awal lewat gol Rafael Leao sirna setelah Santiago Castro dan Dan Ndoye membalikkan keadaan di babak kedua. Ini merupakan kekalahan kedua beruntun bagi tim asuhan Sergio Conceicao, menyusul kekalahan serupa dari Torino pekan lalu. Aroma krisis mulai tercium di San Siro.
Statistik pun berbicara. Kekalahan ini menjadi yang ketujuh bagi Milan dari 26 pertandingan Serie A musim ini. Dalam dekade terakhir, hanya dua musim yang menorehkan catatan kekalahan lebih banyak pada titik ini: musim 2017/2018 (delapan kekalahan) dan 2019/2020 (sepuluh kekalahan). Dan ironisnya, di kedua musim tersebut, Milan hanya mampu finis di posisi keenam, jauh dari zona Liga Champions. Apakah sejarah akan terulang?

Bagi Bologna, kemenangan ini terasa istimewa. Ini menjadi kemenangan pertama mereka atas Milan di Serie A sejak Januari 2016, sekaligus kemenangan kandang pertama atas raksasa Italia tersebut sejak Maret 2002. Sementara bagi Milan, bayang-bayang kegagalan lolos ke Liga Champions musim ini semakin nyata. Apakah perubahan strategi dan perombakan tim perlu segera dilakukan? Pertanyaan ini kini menjadi pekerjaan rumah bagi manajemen dan pelatih AC Milan.