BolaSepak – Perseteruan panas antara Javier Tebas, bos LaLiga, dan Carlo Ancelotti, pelatih Real Madrid, kembali memanas. Tebas, yang juga mengaku sebagai penggemar Real Madrid, menyerang balik Ancelotti setelah sang pelatih mengkritiknya karena terlalu sering berbicara tentang klubnya. Awalnya, Real Madrid melayangkan protes keras terkait kinerja wasit di liga Spanyol, menuduh adanya manipulasi dan kecurangan yang merugikan timnya.
Tebas membantah tuduhan tersebut. Ia justru balik menyerang Real Madrid, menyebut klub tersebut sebagai klub "cengeng" yang tak mau menerima kekalahan dan membangun narasi konspirasi. Tebas bahkan mengaku malu dengan perilaku klub idolanya itu. "Saya mulai malu dengan apa yang saya alami sebagai fan Madrid. Merengek, mereka membangun narasi yang tidak benar. Bahwa ada konspirasi global, semua orang menentang Madrid," tegas Tebas kepada Europa Press.

Ancelotti pun tak tinggal diam. Ia menilai Tebas terlalu banyak berkomentar tentang Real Madrid dan menyarankan agar Tebas fokus pada masalah-masalah di LaLiga. "Tebas terlalu banyak membicarakan Real Madrid. Sejak saya berada di sini, sudah sering terjadi," kata Ancelotti.
Namun, Tebas tak gentar. Melalui akun X pribadinya, ia kembali menyerang Ancelotti, mengatakan bahwa sang pelatih dimanfaatkan oleh manajemen Real Madrid untuk menyerang dirinya. Tebas menekankan bahwa narasi konspirasi yang dibangun Real Madrid tidak hanya tidak sportif, tetapi juga tidak menghormati klub lain dan jutaan penggemar sepak bola. "Carlo, sungguh memalukan bahwa mereka menggunakan Anda untuk ini, mengingat pengalaman yang Anda miliki," tulis Tebas.
Perseteruan ini pun memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar sepak bola. Publik bertanya-tanya, siapakah yang sebenarnya salah dalam kontroversi ini? Apakah Real Madrid memang dirugikan oleh kinerja wasit, ataukah hanya sekadar mencari alasan atas kekalahan mereka? Pertanyaan ini masih menjadi perdebatan yang belum terjawab.